Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

**Music**

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info
Sabtu, 01 September 2012

Ekosistem Terumbu Karang


Ekosistem Terumbu Karang


Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21 derajat Celcius - 29 derajat Celcius. Meskipun masih dapat tumbuh pada suhu di atas dan di bawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Karena itulah, terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah subtropis yang dilewati aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat, & bagian selatan Jepang.
Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxantellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18-29 meter sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman lebih dari 90 meter. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh. Oleh karena itu, di sekitar mulut sungai / pantai / sekitar pemukiman penduduk, pertumbuhan terumbu karang juga lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.


A.Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Terumbu Karang


Ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik apabila kondisi lingkungan perairan mendukung pertumbuhan terumbu karang. Berikut ini faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang.


1.Suhu

Secara global, sebaran terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 derajat Celcius. Tdak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 derajat Celcius. Terumbu karang tumbuh dan berkembang secara optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 derajat Celcius, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 derajat Celcius.

2.Salinitas

Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32-35%. Umumnya, terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas.Contohnya di Delta Sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42%.

3.Cahaya dan Kedalaman

Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxanthellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat tumbuh di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

4.Kecerahan

Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula.

5.Paparan Udara (Aerial Exposure)

Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya.

6.Gelombang

Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni / polip karang.

7.Arus

Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.


B.Pertumbuhan Karang & Perkembangan Terumbu


Berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (hermatype-ahermatype) dan ada / tidaknya alga simbion (symbiotic-asymbiotic), maka karang terbagi menjadi empat kelompok sebagai berikut.


1.Hermatypes-Symbionts


Kelompok ini terdiri dari anggota karang pembangun terumbu yaitu sebagian besar anggota Scleractinia (karang batu), Octocorallia (karang lunak), dan Hydrocorallia.


2.Hermatypes-Asymbionts


Kelompok ini merupakan karang dengan pertumbuhan lambat yang dapat membentuk kerangka kapur masif tanpa bantuan zooxanthellae, sehingga mereka mampu untuk hidup di dalam perairan yang tidak ada cahaya. Di antara anggotanya adalah Scleractinia asimbiotik dengan genus Tubastrea dan Dendrophyllia, dan Hidrokoral jenis Stylaster rosacea.


3.Ahermatypes-Symbionts


Anggota kelompok ini antara lain dari genus Heteropsammia dan Diaseris (Scleractinia : Fungiidae) dan Leptoseris (Agaricidae) yang hidup dalam bentuk polip tunggal kecil atau koloni kecil sehingga tidak termasuk dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga terdiri dari ordo Alcyonacea dan Gorgonacea yang mempunyai alga simbion namun bukan pembangun kerangka kapur asif (matriks terumbu).


4.Ahermytypes-Asymbionts


Anggota kelompok ini antara lain terdiri dari genus Dendrophyllia dan Tubastrea (ordo Scleractinia) yang mempunyai polip yang kecil. Termasuk juga dalam kelompok ini adalah kerabat karang batu dari ordo Antipatharia dan Corallimorpha.


Koloni karang baru akan berkembang, jika polip karang melakukan perkembangbiakan secara aseksual, budding pembentukan tunas (budding) dan fragmentasi.
Melalui proses budding, koloni karang berkembang melalui dua cara yaitu intratentacular budding dan extratentacular budding. Intratentacular budding terjadi apabila pertambahan polip berasal dari satu polip yang terbelah menjadi dua. Extratentacular budding terjadi jika tumbuh satu mulut polip bertentakel pada ruang kosong antara polip satu dan polip lain. Selain itu, koloni dapat berkembang dari patahan karang yang terpisah dari koloni induk akibat gelombang / aksi fisik lain. Patahan terebut melekatkan diri pada substrat keras dan tumbuh melalui mekanisme budding.


C.Interaksi yang Terjadi di Dalam Ekosistem Terumbu Karang


Terumbu karang bukan merupakan sistem yang tetap dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks. Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, dapat mencapai 5.000 g C / meter kuadrat / tahun. Produktivitas sekunder yang tinggi, tersebut menunjukkan komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah.


Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan.
Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama / berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik.

1.Interaksi Sederhana

Interaksi yang bersifat sederhana dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator, grazing, komensalisme & mutualisme.

a.Persaingan

Persaingan umumnya terjadi dalam hal memperebutkan ruang hidup / dalam mendapatkan makanan. Contohnya, persaingan antara koloni karang batu dengan karang lunak.

b.Pemangsaan


Pemangsaan karang oleh predatornya (Acanthaster plancii, Chaetodontidae, Tetraodontidae).


c.Grazing


Pengendalian / pengaturan invasi ruang alga melalui konsumsi ikan herbivor (Acanthuridae, Scaridae).



d.Komensalisme



Hubungan yang erat antara ikan pembersih dengan inangnya.



e.Mutualisme



Hubungan yang erat antara karang batu dengan zooxanthellae, anemon dengan ikan giru (Amphiprion / Premnas), ikan pomacentridae dengan koloni karang batu, dan lainnya.



2.Interaksi Kompleks

Interaksi kompleks antar biota yang hidup di ekosistem terumbu karang adalah melalui jaring-jaring makanan.
Secara garis besar, tingkat trofik dalam jaring-jaring makanan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok produsen dan konsumen.

a.Produsen



Produsen adalah kelompok yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen yang diperlukan seluruh makhluk hidup. Produsen dalam ekosistem terumbu karang meliputi karang batu (zooxanthellae), alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik.



b.Konsumen



Konsumen adalah kelompok yang tidak dapat mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (heterotrof). Konsumen meliputi karang batu (polip), Echinodermata, Annelida, Polychaeta, Crustacea, Holothuroidea, Mollusca, dan lain-lain.



Karang batu dapat berperan ganda, sebagai produsen dan konsumen. Hal ini dimungkinkan oleh adanya endosimbiosis dengan zooxanthellae. Di hari terang, karang batu melakukan proses fotosintesis.Sedangkan di hari gelap, karang batu memiliki tentakel-tentakel bersengat (nematocyst) yang dapat dijulurkan untuk memangsa zooplankton dan hewan-hewan renik lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...